18
Aug

uhuk uhuk. batuk dulu ahh. hahaha.

seminggu yang lalu lah kira2, di suatu pagi papah tiba-tiba nyeletuk “ira, kalo bisa nikah nya jangan di atas umur 25″. saya yang lagi makan, terbelalak seketika. OH TIDAK. bukan, saya bukan mau dijodohkan kok saudara-saudari. orangtua saya amat sangat demokratis soal jodoh buat anak-anaknya. “yang penting seiman”, katanya. tapi kalo kata mamah “… dan batak”. hahahaha. belum kapok juga ternyata si mamah. hahahaha. piss ah papahku sayang. anyway, knp ya? mungkiiinnn, karena udah mau pensiun, atau udah pengen punya cucu, atau emang udah capek ngurusin saya dan pengen menyerahkan putrinya yang cantik jelita menawan ini pada orang lain secara sah. hahahahaha. tapi wajar sih, sebagian besar orangtua ingin puterinya sudah menikah di umur segitu.

balik lagi ke topik awal. perbincangan singkat tersebut mengusik pikiran saya. hmm, umur 25 tahun? bisa kah saya memenuhi keinginan mereka? 25 tahun berarti 3 tahun lagi dari usia saya sekarang. woowww. dan saya mulai membuat kalkulasi. dengan kenyataan saya sampai saat ini belum lulus, mungkin tahun depan *amin* berarti waktu tersisa 2 tahun untuk mempersiapkan mental, materi, rohani dan apapun itu namanya. belum lagi kalo saya yang mau S2 dulu. kalo segala urusan lancar, amiinnn lagi — berarti taun depan saya bisa S2, selesai 2 tahun dan artinya 1 tahun untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan itu. Woww. laluuu, menikahlah sayaaaa dan si Mr.Right tersayannggg. halah, hehe.

deg-degan, takuutttt tapi pengeennnn jugaaaa. gimana dong? HUAHUAHAHAHAHAHAHA.

ketakutan itu muncul sebagian besar karena seringnya nonton sinetron, infotainment dan melihat pengalaman hidup orang berumahtangga yang menunjukkan fakta betapa sulitnya membina rumah tangga dan akhirnya banyak yang jatuh. walopun banyak juga yang tetap bertahan sampai kakek nenek.

i agree with this statement … marriage means destiny meets commitment.

komitmen itu sebenernya bukan ke pasangan aja. tapi juga ke sang pemberi takdir, the Almighty God. hmmm, mungkin kalo semua orang berpikir demikian dan benar-benar menghayati artinya, gak bakal ada yang namanya, KDRT, selingkuh-selingkuh ato bahkan sampe perceraian. semogaaa sajaaa saya dan suami saya nantinya bener-bener paham tentang itu. hehe.

and for me, i believe that i’ll get the best in return when i do my best. just keep the faith that He will make the way for every single thing … :)

3 Responses to “marriage”

siapa tuh Mr. Right?? Perasaaan namaku Michael Jubel Hutagalung.. bukan Michael Jubel Right.

huh.

(hahahahahaha..)

August 19th, 2008

hush, kamu sebut merek. jadi malyuu aihh.hahahaha.

hanna
August 19th, 2008

Mampir doang, n lucu juga ceritanya… Hehe… Salam kenal ya… Ops! Tambahin, dari Salatiga :)

August 23rd, 2008